Bagaimana Seharusnya Film CBM Belajar Dari The Batman

Bagaimana Seharusnya Film CBM Belajar Dari The Batman

Setelah menunggu beberapa lama, akhirnya iterasi baru manusia kelelawar ini kembali hadir. Film yang berjudul The Batman ini berhasil mendobrak standar film superhero yang ada. Memang agak membosankan juga dengan terlalu banyak adaptasi karakter ini, namun Matt Reeves berhasil membuat film yang tidak cuma “asal ada film Batman” aja.

Banyak faktor dibalik kesuksesan film ini. Entah penyutradaraan Matt Reeves yang memang bagus, atau sekedar totalitas para kru dan aktor . Namun ada elemen yang bisa diambil dari The Batman yang harus ada di lebih banyak film superhero.

Oh ya, tulisan ini mengandung spoiler.

the batman robert pattinson
Sumber: Warner Bros

Fokus pada pengembangan karakter

Rata-rata film superhero, entah Marvel maupun DC pasti fokus pada bagaimana tokoh utama mendapatkan kekuatannya, musuh diperkenalkan, tokoh utama bertarung di babak ketiga, tokoh utama menang. Tidak banyak, jika tidak ada perjalanan karakter atau sesuatu yang dipelajari di akhir. Meski bukan yang pertama, namun The Batman tidak mengikuti formulasi seperti ini.

Alih-alih fokus pada proses Bruce Wayne menjadi Batman dan mengalahkan musuh, film ini fokus pada bagaimana Batman menjadi… well Batman yang lebih baik. Film ini fokus pada skill detektif Batman ketimbang fight yang lebih buat self defense disini. Battinson juga jauh lebih flawed dibandingkan versi sebelumnya yang “sempurna”.

Dari simbol “vengeance” menjadi simbol harapan Gotham. Dari sosok yang menghadapi penjahat kelas teri menjadi sosok yang mengerti masalah korupsi Gotham. Namun yang paling penting adalah ia tersadar jika metode yang dipakai selama 2 tahun tidak menyelesaikan masalah. Malah berdampak pada “kelahiran” Riddler (dan disadarkan oleh Riddler juga).

riddler the batman
Sumber: Warner Bros

Penggambaran villain yang tidak bersinggungan dengan protagonis

Sama seperti penggambaran hero di film ini, villain disini juga tidak digambarkan seperti pada umumnya. Biasanya antagonis di film superhero antara memiliki plot tertentu ke hero, maupun kota asal tokoh ini. Dan ini pasti terjadi di setiap babak ketiga film CBM. The Batman beruntungnya punya cara sendiri. Malah penggambaran 3 villain disini harus lebih banyak diikuti di konten CBM lainnya.

Setiap villain disini tidak bersinggungan secara langsung ke Batman, setidaknya hingga akhir. Riddler sebenarnya terinspirasi dari Batman, namun memiliki metode yang lebih radikal. Penguin disini hanya mafia biasa yang punya ambisi sendiri. Sedangkan Falcone lebih ke mafia yang punya kuasa di Gotham sepanjang 20 tahun. Intinya ketiga villain disini cuma kebetulan digambarkan jahat aja sih dan terkesan “tempelan”. Tidak memiliki plot khusus seperti kebanyakan film superhero.

Tidak ada perlawanan secara fisik , melainkan lebih ke psikologis. Adegan Batman mengejar Penguin lebih bersifat “Batman ingin mendapatkan petunjuk” alih-alih “Batman ingin mengalahkan Penguin”. Malah Batman sendiri “diajari” oleh Riddler soal masalah Gotham.

Matt reeves the batman
Sumber: Warner Bros

Berani mengambil elemen film lain , tapi tetap menjadi diri sendiri

Beberapa film superhero, terutama DC, belakangan ini mengambil elemen suatu film untuk dimasukkan di film mereka. Yang paling subtle jelas Joker yang banyak mengambil elemen dari Taxi Driver dan The King of Comedy. The Batman tentunya mengambil elemen film Hollywood 70an (termasuk film Taxi Driver) dan juga film-film noir di tahun yang sama. Beberapa orang juga bilang The Batman mirip dengan Se7en dan Zodiac.

Namun Matt Reeves tidak secara mentah mengadaptasi elemen-elemen ini di filmnya. Ada beberapa sentuhan personal yang bikin film ini jadi sesuatu yang beda dengan beberapa film itu. Tentu saja karena film ini adalah film CBM, elemen yang ada di komik pasti ada disini. Satu hal yang ditambahkan di The Batman ada pada heroisme dan kemanusiaan. Dan ini mungkin adalah alasan mengapa film ini mendapat rating PG-13 meski dengan kegelapannya.

Penguin The Batman
Sumber : Warner Bros

Bonus: The Batman sebenarnya kocak dan komikal, tapi kalian gak sadar aja

Ini adalah hal yang baru terpikirkan di kali kedua menonton film ini. Sebenarnya jika dipikirkan film ini cukup komedik, tidak begitu beda dengan franchise sebelah. Namun karena penempatannya rapih, cerdas, dan tidak maksa jadinya masih tetap serius, walau yang mengerti pasti akan tertawa. Kayak tektokan Batman sama Gordon (terutama “thumb drive”), tebak-tebakannya Riddler, sosok Penguin yang sebenarnya adalah comic relief, you name it. Ini mirip-mirip dengan apa yang ada di Joker.

Dibalik realisme yang terasa, film ini sebenarnya gak serealistis itu. Plot Riddler untuk menenggelamkan Gotham terasa cartoonish. Batman jadi “superhero” di babak ketiga juga cartoonish. Bahkan sebenarnya Riddler versi Paul Dano masih menyisakan sedikit elemen cartoonish dari Jim Carrey di Batman Forever. Cuma sekali lagi, penempatannya bagus jadi tetap terasa gak cheesy. Harus ditiru banyak film.

Yang tidak harus ditiru dari The Batman

Seperti halnya The Dark Knight yang menginspirasi banyak film superhero, Film ini bisa saja “ditiru” banyak CBM kedepannya. Namun disisi lain banyak film superhero justru gagal karena hal ini. Berikut adalah hal yang tidak harus ditiru CBM lain.

Durasi

Film ini jelas memiliki pacing yang ok untuk ukuran film berdurasi 3 jam, namun kayaknya bukan sesuatu yang harus ditiru banyak film. Kecuali digarap dengan baik.

Tone dark

Sama seperti The Dark Knight, banyak film superhero yang meniru aspek realistis dan gelap dari film itu (dan gagal). Film terlihat lebih gelap dan “emo”, tapi please jangan asal dipake begitu saja. Belajar dari kejadian The Dark Knight.

Noir

Aspek noir di film ini bekerja karena Batman memang dikenal sebagai “world greatest detective”. Belum tentu bekerja di karakter lain.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

mcu 2021 Previous post Menilai Konten-Konten MCU di Tahun 2021