Menilai 4 Film Superhero DC-Marvel Garapan Sutradara Wanita

Menilai 4 Film Superhero DC-Marvel Garapan Sutradara Wanita

Jika bukan karena pandemi, keempat sutradara wanita ini bakalan head to head di tahun 2020. Ini fenomena menarik di dunia CBM dimana 2 film MCU yang seharusnya rilis di tahun 2020 beradu dengan 2 film DC yang cukup beruntung bisa rilis tahun lalu. Dua diantaranya berdarah Asia dan mereka merilis film team up. Hal ini semakin mempertajam konsep egaliter di Hollywood dan dunia superhero.

Semenjak Eternals rilis di November 2021 sudah lengkap semua film DC-Marvel garapan wanita ini. Setelah menyaksikan keempat film ini, harus diakui jika keempat film ini….. susah untuk diungkapkan. Karena tidak bisa dibilang jelek meski gak bagus-bagus amat. Pendapat orang terhadap film ini juga beragam.

Sumber: Warner Bros

Birds Of Prey adalah film terbaik diantara keempat list ini

Birds of Prey menjadi satu-satunya film CBM garapan wanita yang lolos dari terpaan delay pandemi. Meski secara review cukup memecah belah , namun diantara keempat film ini BoP adalah yang terbaik. Paling tidak cukup menghibur. Boleh setuju boleh tidak.

Aspek yang membuat film ini lebih standout ada pada action yang stylish dan konsep yang antimainstream. Jika dianalogikan film ini adalah campuran dari action stylist John Wick, violence dan slow burn dari Tarantino, gaya bertutur CBM dewasa seperti Deadpool dan Kick Ass, hingga visual absurd Scott Pilgrim vs The World. Lebih menarik lagi, film ini menuturkan sisi feminisme lebih baik dari ketiga film lainnya.

Sumber: Warner Bros

Banyak yang bilang WW84 jelek, tapi masih cukup mending

Oke, kalian mungkin tidak setuju dengan pendapat ini, tapi harus diakui jika Wonder Woman 1984 masih cukup asik untuk dinikmati. Memang kalian yang suka dengan ke badass-an Wonder Woman pertama mungkin kecewa dengan film ini. Namun untuk ukuran film superhero lumayan mendobrak dengan konsep yang gak ortodoks. Film CBM tidak melulu harus gedebag gedebug, sah-sah saja untuk sedikit berbeda. Tapi harus diakui jika action di babak ketiga cukup dull.

Sebagai satu-satunya sekuel di list ini, agak disayangkan film ini tidak begitu nyambung dengan film pertamanya. Padahal sutradaranya sama. Apakah film ini eksis di Bumi yang beda dengan WW pertama dan Justice League (kedua versi)? Tapi cukup menarik jika konsep multiverse dipakai untuk “memisahkan” kedua film ini. Okelah buat selingan ringan.

Sumber: Marvel Studios

Black Widow yang membosankan kayak Captain Marvel

Sekarang bahas film superhero Marvel Cinematic Universe. Film ini menjadi pelepas dahaga setelah setahun lebih tanpa film Marvel. Sempat terhambat karena PPKM, tapi setidaknya kalian bisa menyaksikan film ini di Disney+

Entah karena kelamaan atau emang filmnya kayak gitu film ini terasa begitu anyep. Kayak gak ada fondasi kuat dibalik mengapa film ini harus ada. Mungkin “Widow” disini bakalan jadi karakter penting di Phase 4, namun film ini tidak begitu appealing. Meski kita patut mengapresiasi manuver MCU yang setidaknya memberikan pembaruan sejak Black Widow, meski gagal. Harus diakui jika WW84 lebih baik dari film ini.

Sumber: Marvel Studios

Eternals, karya monumental yang kurang dimengerti

Dan kumpulan film CBM dari sutradara wanita ini ditutup oleh Eternals. Ekspektasi masyarakat semakin tinggi karena sutradara dibalik film ini memenangkan Oscar, pertama di MCU. Tentu saja hal ini menjadi daya tarik buat MCU yang lagi bebenah. Hingga menjelang rilis muncullah rating dari sebuah agregator review yang menjadikan film ini adalah film MCU terendah yang pernah ada.

Memang beberapa review jelek ada benarnya, namun masih terlihat sebagai film yang bagus. Untuk menikmati film ini harus agak mikir karena film ini begitu kontemplatif. Dan karena kontemplatif itulah film ini jadi tidak “mengasyikkan” seperti theme park, meski secara pribadi gak sampai level “sinema”. Tapi masih layak untuk dibilang “bagus”.

Kesimpulan

Jika 2020 lancar, seharusnya keempat film ini (termasuk Mulan yang bukan film DC atau Marvel) menjadi momentum bagi filmmaker wanita. Apalagi saat ini film superhero adalah film yang lucrative . Membuat fenomena ini jadi menarik.

Birds of Prey yang paling tidak dijagokan disini justru mendapat momentum berkat keberuntungan tayang sehingga terasa mending. Begitu juga dengan WW84 yang berhasil memanfaatkan sela-sela waktu saat pandemi meski dikritik banyak orang. Melihat kondisi ini setidaknya DC udah agak berbenah dan berhasil “memenangkan” 2020.

Film-film MCU yang hadir belakangan dalam keadaan pandemi yang membaik malah kurang bersinar. Dengan delay yang cukup lama, seharusnya Black Widow bisa lebih baik lagi. Beruntung Eternals meski dengan review yang kurang berkesan namun masih memenangkan hati penonton.

Gimana nih guys, film mana yang kalian suka?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

snake eyes mortal kombat shang chi Previous post Ketika Hollywood Membuat Film Dengan Citarasa Asia
mcu 2021 Next post Menilai Konten-Konten MCU di Tahun 2021