Wandavision dan Kekagokan Marvel Studios di Serial Televisi

Wandavision dan Kekagokan Marvel Studios di Serial Televisi

Setelah setahun lebih tanpa konten MCU, Wandavision hadir dan membuka Phase 4 dari MCU. Series yang dibintangi oleh Elizabeth Olsen ini memberikan keunikan sendiri yang belum ada sebelumnya. Ini adalah kali pertama Marvel Studios membuat series, dan hasilnya begitu memuaskan. Wandavision menjadi series paling dibicarakan saat ini. Dan tentu saja menjadi series paling banyak ditonton di Disney+. Gue sendiri juga menikmati series ini.

Meski begitu sukses, ada beberapa bagian dimana Marvel Studios cukup kagok dalam membuat series pertamanya. Memang ada pernyataan bahwa setiap series disini akan memiliki kualitas seperti filmnya. Disisi lain tidak semua elemen film bisa masuk ke medium televisi atau series. Dan itu juga terjadi di Wandavision.

“Series Rasa Film”

Pada saat press release seputar The Falcon and the Winter Soldier,Anthony Mackie sempat mengutarakan bahwa series di Disney+ akan memiliki kualitas yang sama seperti filmnya. Well, Wandavision memiliki bagian yang seperti filmnya (diluar sitkom yang masih pake format tv). Terbukti dengan aspek rasio yang mengikuti filmnya (di adegan luar Hex dan dua episode terakhir). Begitu juga dengan opening logo Marvel, ending credit, hingga post credit yang menjadi “tradisi” film-film Marvel Cinematic Universe. Wajar karena budget membuat Wandavision lebih mahal dari Avengers: Endgame.

Dengan produksi yang seperti film, seharusnya series ini akan berkualitas lebih baik dari series Marvel seperti Agent of S.H.I.E.L.D. Namun untuk apa memiliki kualitas setara film jika hanya ditonton di HP atau laptop? Mengingat tidak semua elemen film bisa diterjemahkan dengan baik di medium serial tv. Seperti aspek rasio yang mungkin mengganggu jika ditonton di tv atau sound effect yang hanya bekerja di bioskop. Setidaknya bagian sitkom di Wandavision masih terasa “televisi”nya.

Sumber: Marvel Studios

Belum terbiasa melakukan series berdurasi panjang

Karena terbiasa membuat film dan short yang bersifat satuan, ada suatu keraguan dalam membuat series seperti Wandavision ini. Meski secara hype dan cerita berhasil, ada beberapa kekagokan yang gue tangkap. Salah satunya adalah “kebingungan” yang terasa setelah episode keempat, dimana mereka mulai “goyang”. Terutama saat transisi antara dunia hex dan luar hex.

Selain itu ada kesan bahwa series ini seperti film berdurasi 6 jam yang dipotong menjadi 9 episode. Disisi lain, setiap episode tidak saling terkoneksi dan motongnya kurang cakep. Seperti ending episode 7 yang langsung nyambung ke awalan episode 8. Tapi overall episode 7 lebih nyambung ke episode 9 ketimbang episode 8 . Alhasil kita harus menonton semua episode dan setiap episode tidak bisa “berdiri sendiri”.

Kekagokan yang hanya ada di Wandavision

Karena Wandavision adalah “surat cinta untuk sitkom Amerika”, pastinya banyak elemen sitkom Amerika di beberapa era. Sayangnya menggabungkan trope sitkom di eranya dengan kekuatan super Wanda dan Vision bukanlah hal yang mudah. Terutama jika sitkom yang “ditembak” tidak memiliki “kekuatan super”.

Imbasnya, meski secara tribute masih cukup sesuai dengan eranya, “kekuatan super” di series ini merusak setiap elemen di sitkom yang ditembak. Dan series ini terlihat bingung untuk menyeimbangkan tribute ke sitkom dan elemen superhero yang ada. Alhasil , setiap episode jadi terkesan kurang otentik meski feelnya tetap terasa.

Sumber: Marvel Studios

Apakah Wandavision merupakan series yang bagus?

Untungnya, segala kekagokan diatas berhasil ditutupi dengan cerita dan kualitas overall yang bagus. Meski medium series dan film beda, tapi setidaknya Marvel Studios sudah berpengalaman membuat film dengan kualitas bagus. Alhasil, “pengalaman pertama” ini berhasil dijalani dengan baik. Dan sepertinya mengadaptasi sitkom juga menjadi keuntungan untuk pembiasaan MCU di dunia series.

Kita tidak tahu apakah The Falcon And The Winter Soldier akan memiliki masalah serupa atau tidak. Namun melihat trailer film ini yang seperti film MCU, rasanya seriesnya akan lebih “film” dari Wandavision. Mungkin pembelajaran MCU di medium series akan berdampak bagi series seperti Hawkeye, She-Hulk dan Ms. Marvel yang akan datang tahun depan. Mereka bisa tahu apa saja yang harus dan tidak harus dilakukan. Atau sebaliknya, “series rasa film” akan menjadi tren di masa depan?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Spiderman Far From Home Previous post Alasan Spiderman No Way Home Bisa Jadi Film Spiderman Terburuk
Zack Snyder's Justice League Next post Zack Snyder’s Justice League, Serupa Namun (Jauh) Lebih Baik